Jumat, 07 Mei 2010

Entrepreneur University dan Intrapreneur

I. Entrepreneur University
Kata entrepreneur yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai wirausaha mengandung makna : suatu sikap mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak seseorang terhadap tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya dan selalu berorientasi kepada pelanggan. Atau dapat juga diartikan sebagai semua tindakan dari seseorang yang mampu memberi nilai terhadap tugas dan tanggungjawabnya.
Pengertian dari pemahaman ini adalah sampai sejauhmana seseorang mampu memaknai tugas-tugasnya secara optimal dan sampai sejauhmana mereka mampu memberikan kepuasan kepada pelanggan. Pelanggan bukan diartikan sebatas orang yang membeli produk atau menerima jasa, melainkan semua pihak yang berkepentingan dengan tugas-tugas tersebut. Jadi bisa saja pelanggan itu atasan kita, bahkan bawahan kita sendiri adalah pelanggan kita.

more
Pengertian entrepreneurship seperti ini mencoba untuk menjelaskan bahwa entrepreneurship bukan lagi semata-mata sebagai kemampuan berwirausaha, tetapi lebih kepada sisi-sisi mentalitas manusia, yang selalu bersikap melayani. Jiwa dan semangat entrepreneurship tersebut mesti dimiliki oleh semua pihak dalam organisasi, mulai dari tingkat terendah sampai tingkat pimpinan. Dan jiwa enterpreneurship diperlukan dalam kondisi perubahan lingkungan yang serba cepat sekarang ini.
Entrepreneurial University
Mendasarkan kepada pemahaman tentang entrepreneur diatas, maka menurut saya, entrepreneurial University bukan berarti komerisalisasi kampus sebagai terjemahan ‘universitas yang melakukan wirausaha’ melainkan memiliki makna sebagai Universitas yang berorientasi terhadap kepuasan public-nya, baik internal public maupun external public. Sebagai pihak Universitas yang mencari pendanaan dengan memulai atau menjalankan bisnis,melalui segenap resiko finansialnya. University is busines. Service butuh cost. Namun kita harus terus meningkatkan mutu pendidikan. Jadi tidak semata-mata untuk peningkatan income sajaDalam kerangka orientasi terhadap pelanggan itu-lah yang kemudian menuntut sederetan konsekuensi yang harus berpusat terhadap mutu, dan mutu akan menuntut tanggung jawab dari para pihak yang terlibat didalammnya. Lalu bagaimana kita mendapatkan income ? Ada banyak jalan yang bisa kita tempuh. Diantaranya, kita bisa mengkomersilkan prosesi wisuda. Dengan kemasan yang bagus, maka acara wisuda bisa ditawarkan ke beberapa pihak. Bahkan, kita bisa menjual mahasiswa yang berprestasi ke luar negeri.
Publik Internal dalam sebuah Universtitas adalah para mahasiswa, karyawan, dosen dan unsur pimpinan. Sedangkan public eksternalnya adalah ; pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat luas. Dengan demikian sebuah entrepreneurial university harus mampu mencari titik temu dimana terjadi kesepakatan mutu pelayanan diantara para pelanggannya tersebut . Untuk itu perlu dirumuskan standar mutu dan kepentingan masing-masing pihak satu sama lain. Komersialisasi kampus merupakan suatu istilah yang berarti upaya pemanfaatan aset kampus untuk mencari dana dengan cara bekerjasama dengan pihak luar. Hal ini akhirnya bersifat negatif karena pada prakteknya, komersialisasi kampus tersebut hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu dan sedikit keuntungan bagi universitas. Faktor utama yang menjadi pergeseran nilai ini adalah transparansi dari semua kegiatan terutama yang menyangkut finansial. Sebagai gambaran menarik dapat diceritakan tentang keberhasilan alumni dan dosen-dosen MIT yang telah mendirikan Kira-kira 4000 perusahaan baru, dan jika penghasilan seluruhnya dijumlahkan, maka penghasilan ini merupakan produktivitas suatu negara yang ke-24 terkaya didunia. Yaitu US$230 billion setiap tahunnya, dan memperkerjakan satu-juta orang. 50% dari industri2 tersebut dibangun dalam 15 tahun sesudah hari wisuda pendiri, dan 15% dalam jangka waktu 5 tahun sesudah hari wisuda pendirinya.
Sehingga hampir semua Universitas diseluruh Dunia berusaha meniru Stanford University dan MIT, dan berusaha membangun inkubator2 didalam kampus masing2. Ivory-Tower Philosophy dari budaya Renaissance ditinggalkan. Seluruh Universitas di Dunia sangat tertarik bercampur iri-hati, melihat kampus Amerika mampu mengaitkan (meng-synergy-kan) disiplin academic-science dengan corporate-science. Seluruh Dunia kagum melihat Amerika dapat meng-kombinasikan 'daya-juang meneliti' seorang Ilmuwan dengan nilai/sifat "berani mengambil risiko" seorang Wirausahawan.

Contoh entrepreneur university : Universitas Brawijaya, sebagai Entrepreneur University, selalu berupaya mempersiapkanmahasiswanya untuk masuk dalam pasar kerja global dengan alat ukur yang tepat. Salah satunya adalah alat ukur proficiency Bahasa Inggris. Bila dilampirkan pada surat lamaran kerja, Sertifikat TOEIC menjamin keterandalan yang bersangkutan karena kemampuan berbahasa Inggrisnya yang berstandar internasional. Lalu ada hal nyata yang lebih mencolok yaitu dibangunnya guest house sebagai sarana penginapan yang merupakan usaha dari universitas Brawijaya untuk membangun entrepreneurship di lingkungan kampus. Lalu ada inbis, setahu saya inbis menyediakan fasilitas seperti fitnes, toko buku, ruang pertemuan, toeic. Inbis juga dibuka untuk umum, bukan hanya untuk mahasiswa universitas Brawijaya. Ada rumah pintar yang berfungsi untuk play group, pendidikan tingkat kecil, penitipan anak. Kegiatan di rumah pintar bersifat komersil dan dibuka untuk umum.
II. Intrapreneur
Apakah yang disebut oleh intrapreneurship? Arti gampangnya adalah entrepreneurship yang dipraktekkan di dalam sebuah organisasi yang mapan. Entrepreneurship memang identik dengan era perintisan usaha. Ketika perusahaan sudah membesar, organisasi menjadi sangat stabil, jiwa entrepreneurship sering tergerus oleh rasa aman dan kemapanan ini. Padahal agar organisasi bisa tetap kompetitif, entrepreneurship bukan saja wajib dimiliki oleh para pengusaha yang bekerja mandiri, tetapi juga oleh jajaran eksekutif dan karyawan perusahaan. Jadi,intrapreneurship adalah praktek-praktek entrepreneurship pada perusahaan yang sudah mapan yaitu melalui penerapan gaya manajemen yang luwes, inovatif, dan berani mengambil peluang. Definisi yang lain disebutkan di sini, yang menyebutkan intrapreneur adalah entrepreneur yang bekerja di perusahaan besar. Menurut saya, intrapreneur adalah seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan yang mempunyai jiwa entreprenurship sehingga memberikan kontribusi atau pengaruh yang besar terhadap lingkungan pekerjaan atau perusahaannya itu sendiri.
Entrepreneurship dapat dikatakan sebagai suatu proses untuk menciptakan nilai melalui pemanfaatan sejumlah sumber daya untuk ‘mengeksploitasi’ sebuah kesempatan. Dapat pula dikatakan entrepreneurship adalah bagaimana memanfaatkan kesempatan, tanpa terlalu ‘hitung-hitung’ seberapa banyak sumber daya yang dimiliki. Modal tekad dan semangat merupakan yang utama ketimbang modal lainnya. Pendek kata entrepreneurship adalah opportunity driven.
Kesempatan tercipta oleh perubahan lingkungan, dan salah satu ciri seorang entrepreneur adalah kemampuannya yang lebih tajam dalam melihat perubahan-perubahan, dan menemukan kesempatan-kesempatan yang tersimpan di balik perubahan itu.
Seorang manajer yang rendah tingkat intrapreneurship-nya mengatakan seberapa banyak sumber daya yang dapat saya kelola, dan dari sumber daya yang dipegang ini apa yang akan dapat dicapai ? Namun seorang manajer yang tinggi tingkat intrapreneurship-nya akan mengatakan berdasarkan apa yang ingin dicapai, baru mengatakan apa saja yang harus dimiliki untuk mencapainya.
Perbedaan antara enrtrepreneur dan intrapreneur terletak pada sisi kelompok (team). Karena pengertian organisasi atau tim sangat luas, oleh karena itu organisasi bisa dimulai dari tingkat keluarga, kampung hingga perusahaan besar. Walaupun secara berkelompok, bukan berarti intrapreneurship lebih mudah dicapai daripada entrepreneurship. Karena dalam intrapreneurship terdapat perpaduan antara pemimpin dan manajemen akan menentukan keberhasilan berorganisasi.
Terdapat tiga pilar dalam intrepreneurship yaitu inovasi, pengambilan resiko yang terkalkulasi, dan kreativitas. Inovasi adalah kemampuan untuk melihat segala sesuatu dengan cara yang baru. Pengambilan resiko yang terkalkulasi merupakan kemampuan untuk mengambil kesempatan yang sudah diperhitungkan dan menganggap kegagalan sebagai suatu pengalaman belajar. Kreativitas merupakan kemampuan untuk memperkirakan berbagai kemungkinan di masa depan dan secara proaktif menciptakan apa yang diidamkan.
Menarik untuk mengamati General Motors yang berusaha menanggulangi penyakit ini. General Motors mencoba menciptakan “pasar” di dalam tubuhnya. GM mereorganisasi pabrik komponen yang kaku dan tidak efisien dengan melakukan pemecahan menjadi delapan unit internal market. Masing-masing unit dipandang sebagai profit center dan diharapkan mengembangkan keahlian yang terkait dengan system industri otomotif. Unit ini juga diharapkan mampu menjual produknya dalam pasar terbuka di luar kebutuhan GM. Misalnya, AC-Rochester tidak hanya menjual produknya kepada GM, tetapi juga menjualnya kepada Mitsubishi, Daewoo, dan Opel.
Unit-unit usaha ini diberi kebebasan untuk melakukan pembelian produk atau jasa dari pihak luar, dengan kompensasi dapat memberikan produk yang benar-benar mempunyai daya saing baik ke dalam maupun keluar. Untuk alasan kepentingan perusahaan yang lebih besar, terdapat kemungkinan perusahaan membatasi pembelian atau penjualan unit profit-center-nya ke dalam pasar internal, dengan kompensasi penurunan pemasukan atau laba dari yang seharusnya disumbangkan oleh unit tersebut.
Internal market network bukanlah pasar bebas, tetapi sebuah aliansi yang terdiri atas para intrapreneur. Kunci efektivitasnya terletak di dalam kolaborasi budaya yang dapat memberikan nuansa kebebasan berkembang kepada individu, teknologi, dan keterampilan melalui unit-unit profit center dan kemudian diorganisasi secara cepat ke arah sumber masalah dan penyelesaiannya. Dengan demikian, di dalam perusahaan diciptakan atmosfer dinamika pasar untuk merangsang daya saing. Tiap unit bertindak sebagai customer bagi unit yang lain seperti layaknya customer eksternal dan sebaliknya tiap unit menjadi pemasar seperti layaknya pemasok eksternal.
Dinamika pasar mendorong perusahaan untuk bersifat fleksibel dan responsif terhadap permintaan pasar. Kelambanan dan kekakuan birokrasi dalam bisnis membutuhkan perampingan struktur organisasi dan prosedur. Keberhasilan seringkali teraih dari kemampuan untuk melakukan hal yang berbeda, lebih cepat, dan lebih baik dari kompetitor. Semangat intrapreneurship merupakan hal yang esensial bagi pemasar.
Intrapreneurship dalam organisasi dibandingkan entrepreneurship memiliki sejumlah kelebihan maupun hambatan. Kelebihannya dibandingkan entrepreneursip terutama pada ketersedian sumber daya. Semangat intrapreneurship dalam sebuah perusahaan yang sudah mapan mempunyai sumber dayanya sudah tersedia dan ‘gratis’, tinggal bagaimana memanfaatkan kesempatan yang ada. Sementara hambatannya adalah spesialisasi dan pemisahan seringkali menghambat komunikasi, dan kompetisi internal seringkali pula menciptakan problem tersendiri.
Kenapa intrapreneurship sulit tumbuh dalam suatu organisasi? Pertama, biaya terhadap suatu kegagalan bagi yang bersangkutan terlalu tinggi, sementara penghargaan terhadap kesuksesan terlalu rendah. Intrapreneurship harus mempunyai ruang terhadap terjadinya kegagalan sementara kegagalan di dalam sebuah organisasi sering diharamkan dan dapat merusak karir seseorang. Daripada mengambil resiko yang dapat menghancurkan karirnya, anggota organisasi cenderung cari selamat. Padahal penghargaan yang akan diperolehnya jika mengalami kegagalan tidak seberapa. Kedua, terjadinya inersia yang disebabkan oleh kemapanan sebuah sistem, yang menyebabkan tidak seorang pun tergugah untuk melakukan perubahan. Ketiga, hirarki organisasi yang menyebabkan hambatan yang berlapis-lapis untuk menciptakan dan bertindak dengan cara yang baru.
Contoh perusahaan intrapreneurship:
Semangat entrepreneurship yang diperlukan oleh perusahaan besar tercermin ketika AT&T merintis pasar Rusia. AT&T menghadapi masalah ketika ingin melaksanakan program pemasaran melalui direct mail. Buku petunjuk telepon tidak tersedia, daftar nama tidak ada, dan kantor pos tidak menyediakan jasa ini. Hal ini tentu sangat sulit bagi AT&T yang terbiasa dengan informasi yang lengkap di AS. Dengan berbagai cara, AT&T menyewa YAR Communication untuk mendapat data tersebut dan tentunya dengan biaya yang lumayan besar.
Empat ribu buah surat siap untuk dikirim. Tetapi, Kantor Pos Rusia mencurigainya dan menahannya untuk keperluan investigasi. YAR Communication mengklarifikasi masalahnya dan akhirnya surat tersebut dapat terkirim. Respons yang sangat bagus, dan kemudian sebagian eksekutif Rusia memesan melalui telepon tanpa melihat produknya.
Kegigihan dalam keadaan yang serba terbatas dalam perintisan pasar merupakan ujian semangat intrapreneurship. Semangat ini seringkali luntur dalam perusahaan yang meraksasa dan stabil, yang dapat menimbulkan rasa aman yang berlebihan. Jadi, tugas pengelola adalah menciptakan struktur yang tidak birokratis, sistem dan budaya perusahaan yang memungkinan tumbuhnya tiga pilar utama intrapreneurship : inovasi, pengambilan resiko yang terkalkulasi, dan kreatifitas.





Daftar Pustaka
Anonim.2010.Menuju Entrepreneural University Universitas Brawijaya. http://ubeec.ub.ac.id. Diakses pada tanggal 28 April 2010 pada pukul 5:53 AM.
Bhermana.2010. Rumput Tetangga Lebih Hijau. http://nustaffsite.gunadarma.ac.id/blog/bhermana/2009/03/07/rumput-tetangga-lebih-hijau/. Diakses pada tanggal 28 April 2010 pada pukul 5:55 AM
Sulaiman, fatah. 2010. Entrepreneur University.http://fatahsulaiman.multiply.com/journal/item/1. diakses pada tanggal 28 April 2010 pada pukul 5: 57 AM.
Susanto, A.B.2010. Intrapreneurship.http://www.jakartaconsulting.com/art-13-14. diakses pada tanggal 28 April 2010 pada pukul 5 : 59 AM

0 komentar:

Poskan Komentar

Previous Post Next Post Back to Top