Rabu, 20 Oktober 2010

Conflict and violence di dalam Perspektif Hubungan International

BAB I
PENDAHULUAN

I.       Latar Belakang
Seiring berjalannya arus globalisasi dan perkembangan isu-isu kontemporer seperti perubahan iklim, hak asasi manusia, budaya dan identitas, hal tersebut tidak mengubah paradigma bahwa isu keamanan dan perang masih menjadi sesuatu yang vital dalam hubungan internasional. Paradigma ini terbangun lewat dominasi realisme dalam hubungan internasional dan kemampuannya untuk beradaptasi dan berevolusi sesuai kondisi jaman. Keterkaitan keamanan dengan hubungan internasional dijelaskan dalam tiga pandangan yaitu identifikasi realist dalam hubungan internasional yang menegaskan mengenai konflik diantara entitas yang berdaulat dalam kondisi sistem dunia yang anarki, hubungan internasional yang dibentuk oleh kaum teoritis dan pembuat kebijakan yang berusaha mengerti akan militer, politik, dan batas-batas normatif sehingga menghindarkan konflik, hubungan internasional diminta untuk menganalisis bukan hanya permulaan dan bagaimana perang itu berjalan namun juga bagaimana untuk mencegah terjadinya perang.more
Ketiga pandangan mengenai keterkaitan keamanan dengan hubungan internasional ini memiliki persamaan pada konsep insecurity sehingga kepemilikan power menjadi sesuatu yang tidak terelakkan untuk mewujudkan security. Dalam perkembangan hubungan internasional, dikenal adanya tiga perdebatan besar yaitu perdebatan antara realisme dan idealism, behavioralisme dan tradisionalisme, positivisme dan post-positivisme. Post-postivist mencoba memandang keamanan dari sisi yang berbeda yaitu dari sisi perdamaian, dunia menurut post-positivist, adalah sesuatu yang terkonstruksi secara sosial dan tidak obyektif sehingga jika lebih banyak orang percaya bahwa perdamaian itu mungkin maka hal tersebut secara otomatis bisa dimungkinkan terjadi. Pandangan lain diberikan oleh Wendt, bahwa bagaimana bila anarki adalah kondisi yang dinginkan oleh negara-negara, sementara kaum feminist berargumen bahwa kekerasan memiliki hubungan interkonektivitas baik dalam realisme internasional, nasional, keluarga sekalipun juga mengenai konsep emansipasi yang secara teoritis merupakan konsep keamanan.
          Pembahasan mengenai keamanan dimulai dengan poin arahan keamanan dari siapa, apakah negara, masyarakat, atau individu? dan range dari ancaman yang seperti apakah yang harus dipertimbangkan? Dalam konsepsi realis mengenai keamanan, Buzan mengidentifikasikan tiga ancaman terhadap states yaitu ancaman terhadap ideologi dari negara, fisik dari negara (populasi dan sumber daya), dan sistem politik negara. Sekalinya kita melakukan antisipasi terhadap perang yang disebabkan oleh anarki, maka persiapan untuk perang tersebut (strategi) menjadi suatu hal yang krusial. Keamanan bagi negara maupun masyarakat dan individual, menurut Buzan, dipenganruhi oleh sector militer, politik, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Bagi realist, konflik merupakan sesuatu yang inherent dan tidak terhindarkan sehingga harapan yang dapat diberikan bukan lagi perdamaian namun periode dimana terjadi kestabilan sistem (system-wide war). Berbeda dengan pandangan liberalis yang mengatakan bahwa perang dapat dihindari dan perdamaian dapat diciptakan melalui keuntungan-keuntungan perdagangan dan teori perdamaian demokrasi. Varian lain dicetuskan oleh liberal institusionalis yang mengatakan bahwa kerjasama dimungkinkan dalam situasi yang anarki dimana institusi memberikan kejelasan informasi dan mencegah kecurigaan apabila pihak lain berbuat curang. Buzan mengakhiri banyaknya perbedaan ini dengan mengatakan bahwa dunia yang ideal bukan pada saat semua orang dengan sukses memperoleh keamanan melainkan ketika tidak ada lagi pembicaraan mengenai keamanan.

II.          Rumusan Masalah
1.            Apa yang dimaksud dengan Teori konflik dalam hubungan internasional?
2.            Bagaimana perkembangan teori konflik dalam hubungan internasional?
3.            Apa yang dimaksud violence?

III.       Tujuan Masalah
1.            Untuk mengetahui Teori konflik dalam sistem hubungan internasional
2.            Untuk mengetahui perkembangan teori konflik dalam hubungan internasional
3.            Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan violence dalam hubungan internasional.
4.            Untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah hubungan internasional
IV.       Metode Penelitian
         1.      Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui studi kepustaka, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti.
         2.      Metode deskritif, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, pembahasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih.

BAB II
PEMBAHASAN

I.       Teori Konflik
               Konflik berasal dari kata kerja latin configure yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
               Konflik dapat dipahami sebagai kondisi dimana sekelompok manusia terlibat dalam perlawanan secara sadar terhadap satu atau lebih sekelompok manusia lain karena perbedaan tujuan . Jadi, dapat disimpulkan bahwa konflik adalah pertentangan antar manusia dan bukan perjuangan manusia dalam lingkungan fisiknya. Yang membedakan konflik dengan kompetisi adalah upaya untuk mengurangi apa yang layak didapatkan oleh orang lain, yang tidak ada pada kompetisi. Konflik sosial meliputi perang, revolusi, kudeta, gerilyawan, sabotase, teror, huru hara, demonstrasi dan lain sebagainya.
               Dalam mengkaji konflik berdasar ruang lingkupnya, teori konflik dapat dibedakan menjadi teori konflik mikro dan makro. Teori mikro melihat konflik sebagai sifat dasar manusia, dimana dalam kajian ini ilmu psikologi menjadi kerangka pikir dominan. Misalnya bagaimana sifat hawkish pengambil keputusan dipengaruhi oleh faktor ideosinkretisnya. Sedangkan teori makro lebih melihat konflik sebagai interaksi antar kelompok- baik institusi, negara ataupun organisasi- yang dapat dijelaskan dalam kerangka pemikiran sosiologi, hubungan internasional, dan lain sebagainya. Misalnya kajian hi dalam memandang invasi Irak oleh AS. Dalam memandang konflik, para scholar terbagi ke dalam dua sikap yang saling berseberangan. Apakah konflik dilihat sebagai fenomena rasional, konstruktif dan fungsional ataukah konflik lebih dipandang sebagai fenomena irasional, patologis dan disfungsional.




II.          Perkembangan Teori Konflik dalam Hubungan Internasional
   1.   The Older Theory of War
Dalam older theory, konflik dan perang dilihat dalam motivasi psikologis-religi yang umumnya menggunakan metodologi yang sederhana dengan data yang relatif minim. Teori ini mengkaji berbagai perang yang berlangsung sebelum jaman modern , terutama perang pada kebudayaan religi kuno, serta teori filosofis dalam periode negara-bangsa. Perang berbasis religi ini dapat ditemukan dalam berbagai perselisihan yang menggunakan ajaran agama sebagai pembenaran. Seperti jihad, perang suci berdasar etika Kristen, gerakan pembenaran Hindu, dan sebagainya. Perang berbasis religi mempunyai dimensi moral dan sosial yang normatif dimana perang dipandang sebagai sesuatu yang amoral, uncivilized dan harus dihindarkan.Walaupun bersifat klasik, teori ini tetap memiliki relevansi dengan situasi kontemporer karena merefleksikan motivasi secara sadar dan rasionalisasi perang sehingga lebih faktual daripada teori konflik kontemporer yang lebih menekankan pada pendekatan matematis yang abstrak. Dalam kaitannya dengan awal terbentuknya negara-bangsa pasca Perjanjian Westphalia, konflik lebih dimaknai sebagai manifestasi dari pertentangan kepentingan ekonomi dimana kolonialisme dan imperialism menjadi wajah baru konflik yang dilakukan oleh negara.
   2.   The Modern Pasifism
Teori ini menitikberatkan pada penolak legalisasi moral dari perang yang muncul setelah renaissance dengan tokohnya Dymond, Richard Cobden dan Norman Angell. Angell menjelaskan ancaman perang terhadap kesejahteraan ekonomi, jadi walaupun ada perdamaian, perdamaian itu bukan tercipta karena pertimbangan moral tapi lebih karena interdependensi ekonomi antar negara.
   3.   Bellicist Theories
Merupakan reaksi terhadap teori pasifisme. Teori ini menjelaskan berbagai strategi perang modern setelah Revolusi Perancis, salah satunya adalah strategi Clausewitz yang menegaskan ketidakmungkinan berlangsungnya perang absolute.


   4.   Bellicist dan Pasifism Polarize
Teori yang dimotori oleh Vilfredo Pareto dan Gaetono Mosca ini lebih bersifat rasionalis-positivis. Mereka menjelaskan konsep aturan yang dibuat oleh elit, pentingnya instrumen koersif dalam pemeliharaan tatanan dan kesatuan sosial serta revolusi yang tidak dapat dihindari.
   5.   Anarkisme dan Sosialis Marxis
Pandangan marxis menekankan konflik sebagai fenomena yang tak dapat dihindari dalam dunia yang anarki.
   6.   Just War di era nuklir
Just war adalah serangkaian norma membatasi negara untuk mencegah negara melakukan aksi yang merugikan pihak lain demi mencapai kepentingannya. Teori ini adalah teori yang paling sesuai dengan keadaan kontemporer saat ini. Di sini just war theory menggambarkan ketiadaan institusi peacekeeping internasional yang efektif sehingga kedamaian total dunia juga sulit untuk diwujudkan. Selain itu teori ini juga memperbolehkan perang sebagai sarana mendapatkan kepentingan, walapun perang agresif tetap tidak disarankan. Selain itu, teori ini juga mempertimbangkan hukum sebagai salah satu elemen perang.
BAB III
I.             Kesimpulan
1.      Teori Konflik terdiri dari The Older Theory of War, The Modern Pasifism,Bellicist Theories,Bellicist dan Pasifism Polarize,  Anarkisme dan Sosialis Marxis, Just War di era nuklir
2.   konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.

DAFTAR PUSTAKA

Dougherty, James E. & Robert Platzgraff. (1986). Contending Theories of International Relations: a Comprehensive Survey. New York, Longman

Grewal, Baljit Singh.2003.Positive and Negative Peace.pdf. Auckland University of
            Technology

Stephen M. Walt, ‘International Relations: One World, Many Theories’, Foreign Policy, No. 110, Spring 1998






0 komentar:

Poskan Komentar

Previous Post Next Post Back to Top