Selasa, 23 Maret 2010

Ini Dia, Tengkleng Khas Solo




Tengkleng adalah salah satu makanan khas kota Solo selain nasi liwet. Sekilas, makanan ini mirip dengan gulai. Bedanya, jika kuah gulai mengandung santan dan pekat, kuah tengkleng dibuat tanpa santan sehingga lebih encer dan segar.

Biasanya, tengkleng berisi tulang kambing yang masih ada dagingnya, kepala kambing, dan juga jeroan. Salah satu tengkleng yang kelezatannya jarang ditandingi di Solo adalah warung Bu Edi di Pasar Klewer yang sudah berjualan sejak 1971.

Lalu bagaimana di Jakarta? Saya menemukan tengkleng yang sedap di Cengkeh, di daerah Jakarta Pusat. Terletak di jajaran toko-toko tua di Jalan Ir H Juanda III, restoran dengan nuansa Indonesia ini menjadi tujuan tersendiri bagi pencinta kuliner Tanah Air.

Hadir dengan konsep art deco yang didominasi warna coklat dan putih di seluruh ruangan, resto ini memberikan rasa nyaman dan homi kepada pengunjungnya. Cengkeh yang sudah berdiri sejak empat tahun lalu memang menyajikan modern Indonesian cuisine. Menu-menu tradisional Indonesia dimodifikasi sehingga mampu memberikan sentuhan lain dalam setiap makanannya.

Salah satunya adalah yang saya sebut tadi, Tengkleng Soloensis. Ada yang spesial dalam menu yang satu ini. Jika umumnya bahan yang digunakan adalah kambing, tidak dengan yang satu ini. Dengan alasan lebih sehat, posisi kambing digantikan dengan sapi. So, lebih rendah kolestrol.

"Kami memakai daging sapi, bukan kambing, soalnya banyak yang agak 'takut' makan kambing. Ini menu favorit lho Mbak," tutur salah seorang pramusaji Cengkeh.

Selain itu, masih ada beberapa menu-menu Indonesia lain yang menarik untuk dicoba. Pilihan saya selanjutnya jatuh pada Sego khas Cengkeh, Nasi Liwet Bedoyo dan Es Kawis Cao.

Sego khas Cengkeh hadir pertama di meja saya. Menu ini terdiri dari nasi merah, timun bumbu acar, kering tempe, potongan-potongan kecil ayam, empal dengan serundeng, peyek kacang, dan juga sambal. Semuanya ditata apik dalam piring kaca segi empat.

Karena beras merah yang dipakai adalah jenis organik, maka nasi merah yang dihasilkan tidak pera, tetapi hampir mendekati nasi putih yang pulen. Empal serundengnya empuk dan gurih.

Rasa yang sama juga keluar dari potongan-potongan daging ayam. Ditambah dengan bumbu acar yang segar dan kering tempe yang tidak begitu manis, menjadikan kolaborasi yang seimbang diantara bagian-bagian menu tersebut.

Beralih ke menu kedua, nasi liwet lengkap dengan lauk-pauknya, telur, kering tempe, sayur labu, tahu putih, ati ampela, dan peyek kacang hijau.

Berbeda dengan nasi liwet kebanyakan, nasi yang dipakai dalam menu ini adalah nasi gurih, rasanya mirip nasi uduk. Tetapi, modifkasi ini tidak mengurangi kelezatan menu favorit restoran yang salah satu pemiliknya adalah kerabat RA Kartini.

Akhirnya, makanan terakhir yang saya santap adalah tengkleng sapi. Biasanya, tengkleng disajikan lengkap dengan lontong, emping dan acar. Tetapi, saya memesan tanpa lontong karena perut sudah cukup kenyang dengan nasi merah dan nasi liwet.

Wow, kuah tanpa santan dengan aroma daun jeruk yang kuat itu yang benar-benar segar, gurih dan sedap. Daging yang sebagian masih melekat erat dengan tulang sapi juga sudah empuk. Jadi, memberikan keasyikan tersendiri ketika menggerogoti tulang-tulang sapi itu.

Bagi saya inilah puncak kenikmatan dari semua makanan yang saya cicipi tadi. Tengkleng Soloensis-nya benar-benar nendang.

Sebagai penutup, saya mencicipi Es Kawis Cao yang unik. Disajikan dengan sirup buah Kawista, dengan serutan blewah, kelapa muda dan cincau.

Kawista adalah buah langka yang berwarna hitam kecoklatan. Buah yang masih bisa ditemukan di Subang dan Rembang ini juga dibikin dodol. Kali pertama saya meneguk minuman ini, saya menduga terdapat rum dalam racikannya. Ada rasa 'greng' sampai ke hidung saya. Tetapi, ternyata saya salah. Tak ada alkohol sama sekali dalam Es Kawis Cao. Aroma rum yang keluar dari minuman itu berasal dari sirup Kawista. Benar-benar buah yang menarik.

Kalau mau menjajal minuman istimewa lainnya, cobalah Cengkeh Ice Tea. Disajikan dengan teh rasa mangga dengan tambahan aneka potongan buah di dalamnya, apel hijau, apel merah, jeruk sunkist, dan belimbing. Hmmm...apa ya rasanya?

0 komentar:

Poskan Komentar

Previous Post Next Post Back to Top